
Sajian ini termasuk kategori kue basah. Meskipun demikian, warga Kutai Kartanegara menyukai babongko disantap sebagai menu sarapan.
Selain untuk sarapan, babongko juga sering disuguhkan pada acara-acara besar, seperti pernikahan atau beseprah (ritual sarapan besar). Sepintas, babongko mirip bubur sumsum di Jawa. Bedanya, tepung beras babongko diberi pewarna hijau dari perasan daun suji. Selain itu, babongko disajikan dalam bungkus daun pisang berbentuk piramida. Sajian ini punya warna hijau yang menarik dengan tekstur lembut dan kenyal. Tektur itu didapat dari proses pembuatan yang diawali dengan mencampur adonan tepung. Adonan itu dimasak bersama santan encer, gula pasir, dan garam. Adonan masak yang sudah mengental kemudian didinginkan. Jika sudah dingin, adonan dibungkus bersama gula merah cair dan santan kental. Barulah babongko dikukus hingga matang. Saus santan dan gula merah cair di atas babongko membuatnya manis, gurih, dan lezat. Apalagi, porsi babongkko juga cukup besar, cukup bikin kenyang saat sarapan.